Sepakbola “Terancam” Menjadi Mesin Politik

Edy Rahmayadi, Bakal Calon Gubernur Sumatera Utara

bundarsatu – 9 September 2017 yang lalu Kompas memberitakan bahwa Panglima Kostrad Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi ikut meramaikan bursa kandidat Pilkada Sumatera Selatan 2018. Sepertinya saya salah membaca, bagaimana mungkin beliau mendaftar menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utara, tetapi di awal berita Kompas menuliskan Sumatera Selatan. Bisa jadi saya yang salah membaca atau Kompas yang salah menuliskan berita.

Edy pun mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur Sumatera Utara ke Partai Amanat Nasional. Melalui Ketua DPW Partai Perindo Sumut Rudi Hasibuan sebagai perwakilan, Edy mengembalikan formulir ke Kantor DPW PAN Sumut di Medan, Jumat (8/9/2017), (dikutip dari Kompas). Kemungkinan sudah ada dua Partai Politik yang akan dipergunakan punggawa PSSI tersebut. PDI Perjuangan dan Nasdem juga digadang-gadang akan dilamar menjadi partai pengusungnya. Ini lumrah terjadi dalam dunia percaturan politik. Karena persamaan visi, sejalan, juga tidak jarang karena sepaham.

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) satu ini lahir di Aceh pada 10 Maret 1965. Tahun 1985 berhasil masuk dalam Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Karir sepakbolanya dimulai sebagai pemain sepakbola amatir. Edy pernah menjadi pengurus Persatuan Sepakbola Angkatan Darat (PSAD) ketika menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara (Danlanud) 100, Medan. Hingga akhirnya alumnus SMA Negeri 1 Medan tersebut menjabat sebagai pembina PSAD sejak menjadi Danlanud 100 hingga sebagai Kepala Staf Korem 031/Wirabraja. Tidak tanggung-tanggung, Edy menjabat sebagai Pembina antara tahun 2000 dan 2005.

Prihatin menjadi alasan kuat Edy Rahmayadi untuk mengelola PSMS Medan ketika menjabat sebagai Pangdam 1 / Bukit Barisan. Bulan September memang selalu ceria, PSMS berhasil memboyong Piala Kemerdekaan pada September 2015. Hingga akhirnya Edy Rahmayadi mencapai puncak karir dunia sepakbola sebagai Ketua PSSI.

“PSMS Medan itu sudah menjadi ikon dan marwah bagi warga Sumatera Utara. Karena itu, jangan diabaikan” tutur Edy pada 2015 lalu (dikutip dari Kompas).

Kutipan di atas menjadi menarik ketika Edy Rahmayadi mendaftarkan diri menjadi Bakal Calon Gubernur Sumatera Utara. Tidak sedikit opini yang mencuat kepermukaan publik bahwa PSMS akan dijadikan roda politik dalam pertarungan 2018 tersebut. Saya enggan membahas gosip miring lain yang muncul di beberapa media sosial. Benarkah sepakbola bisa menjadi mesin politik selain partai dan organisasi masyarakat ?

Eko Maung menuliskan dalam pandit footbal tentang kekalahan Dani Setiawan (Pilgub Jabar 2008), Yance (Pilgub Jabar 2013), serta Ayi Vivananda (Pilwakot Bandung 2013). Ketiga actor figure tersebut jelas-jelas didukung salah satu Ketua Suporter di Jawa Barat yang memiliki massa tidak sedikit. Menilik pesan bahwa PSMS adalah marwah Sumatera Utara, sepertinya pesan ini hanya asumsi pribadi saja. Toh menurut hemat saya, Stadion Teladan yang tidak berkapasitas besar itu selalu menyisakan bangku kosong setiap PSMS berlaga beberapa musim terakhir ini. Apakah benar semua penduduk Sumatera Utara mencintai PSMS Medan? Atau bahkan mereka lebih mencintai PSDS Deli Serdang atau bahkan cinta mati pada Arsenal ?

Hitungan Matematis Pilgubsu

Menilik pada Pilgubsu 2013, Pasangan Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry (Ganteng) dinyatakan sebagai pemenang dengan perolehan sebanyak 1.604.337 suara. Mengungguli keempat pasangan lainnya. Sementara total suara sah dalam Pilgubsu tersebut sebanyak 4.861.467 suara. Kota Medan sendiri berhasil menyumbang 279.156 suara untuk pasangan Ganteng tersebut. Mengacu pada data DPT Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu, jumlah pemilih Pilgubsu sebanyak 9.902.928 jiwa. Untuk memenangkan kontestasi tahun 2018 tersebut dibutuhkan paling sedikit 3juta suara. Secara matematis dukungan dari seluruh supporter PSMS Medan tidaklah cukup. Berdasarkan perhitungan kasar, jumlah supporter PSMS Medan itu mencapai 50ribu orang. Baik fans tetap maupun fans karbitan. Dan tidak semuanya berdomisili di Kota Medan. Dari 50ribu orang tersebut, jika saja berhasil merayu orang tua, kerabat, teman juga kekasih maka akan menghasilkan kira-kira 100ribu – 150ribu suara. Jumlah suara ini masih jauh dibawah suara pemenang di Kota Medan pada Pilgubsu 2013.

Menjadi sebuah cerita yang konyol jika menganggap Sepakbola Medan mampu menjadi mesin politik yang kuat. Harus ada 20 kursi di Parlemen Sumatera Utara untuk mengusungkan 1 pasangan bakal calon pada Pilgubsu 2018. Ada berapa kursi yang dimiliki supporter PSMS dalam DPRD Sumatera Utara? Sumatera Utara ditakdirkan menjadi provinsi dengan jumlah kabupaten kota yang banyak. Tidak hanya itu, bahkan klub sepakbolanya pun juga terbilang banyak. Hingga Pro Duta yang sempat singgah di Medan harus angkat kaki kembali dari Sumatera Utara. Sepakbola di Sumatera Utara belum benar benar hidup. Bahkan dapat saya simpulkan bahwa Sepakbola di Medan belum mampu menjadi Mesin Politik yang handal, bahkan menjadi mesin politik pun tidak.

 

Penulis : Henri Sinurat



« (Previous News)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *