Keteguhan Fellani, Pemain Manchester United

Keteguhan Fellani, Pemain Manchester United
Pelukan Fellaini – Mourinho

 

“Ayah saya pernah mengatakan, lihatlah pria ini, jadi saya melihatnya. Pria ini tidak melakukan apapun yang spesial dalam hidupnya. Namun suatu kali, rumah kami didatangi oleh tentara, banyak sekali. Ayah dan ibu saya dipukul hingga jatuh, dan pria ini, teman ayah saya, ia juga terjatuh. Setiap kali ia dipukul jatuh, ia selalu bangun lagi. Mereka memukulnya lebih keras, ia bangkit lagi. Saya kira kegigihannya membuat tentara-tentara itu berhenti memukulinya, ia membiarkan pria itu hidup.” (Bridge of Spies, 2015)
***
4 Desember 2016, waktu lokal menunjukkan pukul 18:45, tepat dua menit setelah masuk menggantikan Henrikh Mkhitaryan dalam situasi United unggul 1-0 di Goodison Park berkat gol Zlatan Ibrahimovic, Marouane Fellaini kembali menjadikan dirinya tumbal dalam pertandingan United. Tekel cerobohnya terhadap Idrissa Gueye di menit ke-87 membuat tim tuan rumah memiliki kesempatan untuk menyamakan kedudukan lewat titik putih. Leighton Baines yang ditunjuk untuk menjadi algojo tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Skor 1-1, United semakin menjauh dari zona Champions League, sembilan poin tepatnya dari posisi keempat. Berniat memastikan kemenangan 1-0 dengan mengandalkan Fellaini menyapu bola-bola panjang Everton, yang terjadi malah sebaliknya.

Reaksi pendukung Manchester United di sosial media cukup seragam, menyebut penampilan tersebut (bertepatan dengan penampilan ke-100 Fellaini bersama United) sebagai penampilan terakhirnya, karena ia dianggap tidak layak mengenakan jersey merah kebanggaan Manchester United. “Seratus laga terlalu banyak,” tulis salah satu pengguna Twitter kala itu, dan dari jumlah Retweet dan Favorite/Like yang mencapai ratusan, dapat disimpulkan jika banyak yang sepaham dengan pandangannya. Tweet lain menggunakan foto Fellaini, sebuah box, pesawat, dan peta RRC, menandakan jika waktu Fellaini telah habis dan waktunya untuk manajemen menjual sang pemain ke benua kuning untuk mendapatkan profit maksimal.

Reaksi negatif tersebut menular ke stadion, sepekan selanjutnya, salah satu sektor tribun Old Trafford bersiul dan mengolok-ngolok sang pemain saat ia akan dimasukkan sebagai pemain pengganti untuk Herrera dalam laga v Spurs. Ada juga beberapa pendukung yang tetap bertepuk tangan untuk sang pemain, tetapi tak dapat dipungkiri, bahkan untuk pendukung yang paling optimis sekalipun, mereka mulai kehilangan kepercayaan untuk eks Everton ini. Seorang gelandang yang tidak terlalu teknis ataupun flamboyan, tidak memiliki kemampuan mengoper kelas wahid, kemampuan dribel serta tekel yang juga a la kadarnya, apakah Fellaini pantas berada di tengah lapangan mewakili tim sekelas Manchester United?

Agak sulit menjawab pertanyaan tersebut, tetapi ini adalah pemain yang berhasil bertahan di era tiga pelatih berbeda, dan nyaris tidak tersentuh oleh ketiga pelatih tersebut. Patut diingat jika Fellaini bertahan di Old Trafford lebih lama dari pemain-pemain yang memiliki label ‘kelas dunia’ atau ‘prospek masa depan’ seperti Angel Di Maria, Radamel Falcao, Victor Valdes, Bastian Schweinsteiger, Morgan Schneiderlin, hingga Memphis Depay, jadi bagaimana bisa? Sepi peminat? Ada banyak klub luar Inggris yang siap menebus sang pemain dan dengan kekuatan finansial serta daya tarik United, seharusnya tidak sulit untuk mencari pengganti yang sepadan atau secara teknis lebih layak. So why is that?
***
Marouane Fellaini adalah tipe pemain yang lebih memanfaatkan fisik alih-alih teknis (in other news, water is wet), ia datang (entah secara grasak-grusuk), ia menekel, ia menabrak lawan, ia berduel udara, ia membuat pelanggaran, dan intinya, ia meletakkan badannya yang besar untuk menghadang lawan dan laju serangan lawan. Di lapangan ia memiliki tugas sederhana untuk merebut bola dengan segala cara. Fisiknya yang menjulang juga amat dibutuhkan United dalam situasi bola mati baik dalam skema bertahan ataupun menyerang. Jika dimainkan di lini tengah United, Fellaini adalah pemain pertama yang paling mungkin menerima sepakan goal kick De Gea, karena tentu saja lebih mudah buat seorang kiper untuk mengenai pohon alih-alih kepala manusia. Namun apakah itu kualitas yang dilihat oleh David Moyes, Louis van Gaal, dan Jose Mourinho?

Ada kualitas lain yang sering kali terlupakan saat sedang membicarakan pemain profesional, bukan kemampuan teknis, bukan kemampuan fisik, tetapi komitmen, dedikasi, serta ketaatan terhadap instruksi pelatih, dan dalam hal ini Fellaini jauh unggul ketimbang nama-nama mentereng tadi. Kualitas tadi sering kali tertutup oleh gol, dribel-dribel ciamik, umpan matang, atau mungkin penyelamatan gemilang.

Komitmen inilah yang mungkin ‘menyelamatkan’ karier seorang Fellaini di Manchester United. Berapa banyak pemain bertalenta yang karirnya langsung melempem karena tidak memiliki mental yang tepat? Tidak terhitung jumlahnya. Diolok-olok di sosial media? Tutup akun. Dikritik atau disuruh ganti gaya main? Minta pindah klub. Fellaini? Do’i bangun lagi setiap jatuh. Buat kalian yang pernah nonton film spy-thriller garapan Steven Spielberg tahun 2015 yang berjudul Bridge of Spies, pasti teringat *SPOILER ALERT* adegan di mana Rudolf Abel (diperankan oleh Mark Rylance) menceritakan tentang satu kisah tentang pria yang selalu bangun berdiri setiap kali ia dipukul jatuh – Stoiykiy Muzhik, standing man. Rumour has it, Rylance punya poster Fellaini di kamar tidurnya, tepat di atas penghargaan Oscar yang ia terima untuk penampilannya di film tersebut. LOL not actually, but you see the point.

Setiap kali dimainkan, Fellaini menunjukkan apa yang sang pelatih inginkan darinya. Untuk Jose Mourinho, ia menyukai gelandang pekerja keras yang mampu memecah alur serangan lawan, dan dalam diri Marouane Fellaini, Jose melihat gelandang dengan etos kerja yang sesuai dengan yang ia inginkan, bahkan dengan kemampuan teknis yang terbilang standar. Berkali-kali Fellaini mendapatkan kritik dari pendukung dan juga media massa, berkali-kali pula ia bangkit dan meyakinkan pihak klub jika ia masih dapat diandalkan. Jatuh dua kali? Bangkit tiga kali! Buat pemain lainnya, jatuh sekali, saatnya terbang ke Paris. See the difference?
***
Jadi bagaimana dengan prospek Marouane Fellaini musim ini? Masuknya Nemanja Matic musim panas ini tentu semakin mengurangi kesempatan main Fellaini. Dalam tiga laga awal musim ini, ia selalu masuk sebagai pemain pengganti, salah satu yang paling berkesan adalah laga United v Madrid di Skopje yang berakhir untuk kemenangan skuad asuhan Zidane. Dalam laga tersebut United sempat tertinggal dua gol Casemiro dan Isco.

Setelah gol Isco, Real Madrid masih menguasai jalannya pertandingan. Trio Isco-Modric-Kroos tampil sebegitu dinamisnya seperti sedang mengajari anak-anak United bagaimana cara mengoper dan menendang di hari pertama sekolah. Melihat situasi ini, Jose Mourinho mengeluarkan deputi kepercayaannya, Marouane Fellaini. Dampaknya langsung terasa, beberapa menit kemudian lewat skema serangan balik, United hampir mencetak gol dengan Paul Pogba dan Romelu Lukaku menyia-nyiakan peluang emas di muka gawang Keylor Navas.

Real Madrid yang tadinya di atas angin mulai kesulitan melakukan kreasi peluang, dan puncaknya, 6 menit setelah masuk menggantikan Ander Herrera, Fellaini menahan bola cukup lama di kotak penalti Madrid untuk membiarkan Rashford, Matic, dan Lukaku bergerak ke depan, umpannya ke Rashford, lalu diteruskan ke Matic, berakhir dengan gol rebound Romelu Lukaku.

Permainan Manchester United memang tidak indah malam itu, tetapi Jose mendapatkan apa yang ia harapkan saat ia memasukkan Marouane Fellaini ke dalam lapangan, memecah kreasi peluang Madrid dan memberikan waktu untuk pemain lain melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya. Salah satu contoh seberapa efektifnya sepakbola pragmatis dapat dieksekusi.

Sejauh ini, United cukup fasih menjajal dua skema bermain: 4-2-3-1 dan 4-3-3. Dalam formasi pertama, Fellaini dapat menjalani peran salah satu pivot, yang amat mungkin akan ditandemkan dengan Nemanja Matic, ini sangat berguna saat United sedang unggul tipis dan mendapat tekanan dalam situasi-situasi sulit, khususnya laga-laga tandang Champions League. Untuk skema tiga gelandang tengah, ia dapat berbagi tempat dengan Pogba atau Herrera yang bermain sedikit melebar (mezzala), dengan Nemanja Matic bermain lebih ke dalam untuk memberi proteksi lebih terhadap backfour United. Ia juga dapat menjadi striker kejutan dalam situasi tertentu, seperti yang ia tunjukkan di Everton dan juga era kepelatihan Louis van Gaal.

Singkatnya, Fellaini adalah pemain yang unik, di satu sisi ia adalah pemain yang penuh kekurangan dan beberapa kali sering membuat kesalahan konyol, tetapi di sisi lain ia juga adalah sosok yang masih dibutuhkan. Ia adalah pemain yang tidak banyak dicintai dan dihormati oleh para pendukung United sendiri maupun penggemar sepakbola secara umum. Ia adalah seorang pemain yang kerap dicela secara habis-habisan dari segala sisi setiap kali membuat kesalahan. Mungkin buat banyak pendukung Manchester United, Fellaini dianggap sebagai warisan, sebuah simbol kegagalan dari era David Moyes di United yang perlu ‘dibuang’ karena mengingatkan akan era yang tidak layak terukir di buku sejarah Manchester United. Namun buat orang-orang yang bekerja bersamanya, Fellaini adalah sosok penuh dedikasi, bermental baja, dan di saat-saat tertentu merupakan kartu as United yang dapat mengubah jalannya laga, tidak begitu cantik tentunya, namun efektif.

(Albert Harsono/ Manchester United World )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *